You are currently browsing the tag archive for the ‘ORARI’ tag.

Kota Malang identik dengan buah apel, buah sebenarnya lho, bukan kiasannya si mbak Angelina Sondakh ‘Aple Malang’ dan ‘Washington Apple’. Nah, selain apel, kota Malang identik dengan Malang Sprint Contest yang dibatasi cukup 5 jam saja; terbagi atas kategori 40M, 80M SSB dan kategori CW. Nah tahun ini Malang Sprint Contest sudah memasuki ‘episode’ yang ke-17; bukan main berarti kalau dianalogikan setiap tahun Malang Sprint Contest sudah berjalan 17 tahun, ibarat cewek sudah sweet seventeen yang boleh pacaran.. he he he.

Nah, sudah lama nggak ikutan kontes nasional. Pengin kembali merasakan suasana pile up di ajang kontes nasional; 40M rasanya sudah crowded, gimana kalau di 80M yang mungkin band yang mulai ‘ditinggalkan’ oleh teman-teman, karena imbas diperbolehkannya Siaga bekerja di 40M.

Okelah, kategori 80M dimulai pukul 05.00 WIB, dengan support N1MM logger+, rotary dipole, HeilPRoset plus foot-ptt switch dan 95Watt FT450D mulailah CQ-CQ. Untung sudah dilengkapi dengan Voice Keyer jadi nggak terlalu jontor nih mulut. Waktu ‘menduduki’ frekuensi dibatasi 5 Menit.

Hal-hal menarik yang sering terjadi di kontes nasional yang bisa bikin simpul di senyum sering aja terjadi. Bukan bermaksud menggurui, namun inilah realita yang terjadi. Bisa jadi karena kebiasaan ikut net di 80/40M jadinya bikin senyum simpul  itu tadi.

  1. Menjawab ‘Apakah frekuensi sedang dipergunakan?’; sebagai pengguna frekuensi yang baik adalah sebelum menggunakan frekuensi seyogyanya mengecek apakah frekuensi sedang dipergunakan, nah setelah dirasa frekuensi kosong dan dua kali ditanyakan tiba-tiba ada yang menjawab : ” Ya, frekuensi tidak sedang digunakan, silakan dipergunakan”………. jhahahahaha kena deh lue!
  2. Mengabaikan “Listening First”; cukup vital sebenarnya. Yang penting hajar bleh…. QSL 59 Semarang, mohon diulang Callsign-nya? ……jhahahaha capee deh…
  3. Mengabaikan “Full Callsign” ini mungkin karena kebiasaan join di Net yang ‘memaksa’ memberikan satu/tiga huruf suffix-nya saja; sehingga waktu pertukaran kurang efektif, ditambah apabila mengulang “Untuk Anda 59 …….untuk saya 59 Semarang”…………..glodhaaag
  4. Manual log; ini mungkin yang perlu digalakkan penggunaan electronic logger untuk kontes…. sering terjadi menjawab CQ sambil On-Air mengecek log manual: sudah belum ya……ya ya…sudah dilanjut.
  5. Ada satu YL-station dengan prefix YB dan suffix yang unik; ih jadi kepo nih…..sambil mbuka QRZ.com loh kok nggak ada, terus dicari dengan YCnXXX kok juga nggak ada, tanya google nggak ada hasil……….jhahahahaha welkam to YB-land guys.

Aniway, pokoknya enjoy dan having fun ajalah ngikutin kontes. Berharap saja dapat Apel dari Malang.

Yang jelas pagi-pagi di hari Senin sudah miss-call dari peserta kontes………….serius bener nih pengin ‘apel malang-nya’

 

Ashampoo_Snap_2015.01.03_04h28m42s_003_Konon katanya ada sebagian yang berpendapat kalau merayakan tahun baru tuh ‘haram’ hukumnya. Kumpul-kumpul, hura-hura, minum-minum terlalu banyak mudharatnya. Nah, mumpung malam tahun baru, hujan ada baiknya ‘merayakan’ malam tahun baru dengan mengikuti Bogor Old-And-New contest yang memang sudah menjadi agenda rutin tiap tahun ORARI Lokal Bogor. Tentu saja kontes ini dengan hura-hura alias teriak-teriak CQ-CQ, ‘kumpul-kumpul’ imajiner di band 80/40m, dan diselingi minum ya… jahe anget lah untuk mengurangi serak di tenggorokan. Nah, kalau sudah begini ‘haram’ nggak ya?

Panitia sudah menyediakan User Defined Contest untuk dapat digunakan dengan N1MM logger, mantap dah. Memang semestinya kontes nasional didorong untuk dapat mengadopsi international contest rule. Dengan menggunakan logger akan melatih kontester ‘nasional’ untuk lebih mengenal dan lancar mengoperasikan software logger, eh, barangkali ntar nanti mengikuti kontes internasional tidak akan mengalami culture shock lagi #halah.

Bogor Old-And-New contest sendiri dibagi dua segmen; 12.00-15.00Z untuk band 80m dan selepas 15.00Z hingga 00.00Z menggunakan band 40m. Cuma rada bingung nih di juklak kontes disebutkan 12 jam, namun pada time periode disebutkan 24.00Z pada 1 Januari 2015? Penggunaan slot 80m cukup menarik karena kayaknya band 80m ini mulai ditinggalkan paska alokasi bandplan yang terdahulu. Dengan dibukanya band 40m untuk alokasi Siaga band 40m lebih menarik dari band 80m; mungkin karena antenna 40m lebih kompromise dibanding 80m.

Hal-hal menarik kala mengikuti kontes nasional masih sering ditemui dan terkadang bikin senyum simpul, he he…

  • Penggunaan QRZed? Masih sering ditemui rekan yang melakukan CQ-ing tidak menggunakan CQ namun menggunakan QRZed tanpa diikuti callsign-nya. Akibatnya rekan yang akan masuk wajar menggunakan QRZed tanpa callsign juga, namun justru dijawab pula dengan QRZed lagi, jadinya terjadi loop QRZed yang ‘pastinya’ nggak akan berakhir, he he……….
  • Beberapa kali, satu slot freq. saya dengerin beberapa menit kosong, saya gunakan pembukaan dengan “Apakah frekuensi sedang dipergunakan?” eh ada yang menjawab Frekuensi sedang dipergunakan, terus tiba-tiba ybs CQ-ing………he he. Ternyata frekuensi tersebut sudah di’kapling’.
  • “Saya sudah belum ya?” He he….. pertanyaan ini sering muncul karena barangkali yang bersangkutan tidak menggunakan logger dan masih menggunakan log manual, dan ‘malas’ untuk mengecek logsheet-nya, dan malas pula untuk ‘Listening First”. Namun hal yang cuku menarik terjadi seperti gambar di atas…..jhahahaha…
  • ‘Listen-Listen-Listen’ juga jarang dianut; sudah di-pile-up dan diakhiri dengan QRZed YB2ECG, masih ada saja yang menanyakan callsign-nya apa? he..he….. k’mon gais!

Lebih dari paparan di atas muncul ‘generasi’ baru kontester nasional, dan berharap generasi baru ini dapat cepat belajar dan hal-hal di atas nggak akan muncul lagi; ada 4 youngsters yang dapat saya logged: YC1COD (16th), YD1CXC (13th), YD1CCL(15th) dan YD5KFU(9th) dan ‘truely old-man’  YC6LOI (85th).

Have fun in the contest!

Apa yang terpikirkan dengan istilah HamFest? Secara lateral mungkin yang terpikir adalah tempat berkumpulnya kawanan amatir radio; acara workshop, sharing knowledge perihal ke-amatiranradio, seminar, flea-market dan tentu saja rag-chew secara langsung alias eyeball sesama amatir radio.

Nah, gambaran itulah yang mendorong kaki ini melangkah dan menerbangi jarak Semarang-Jakarta (walau masih agak trauma dengan namanya penerbangan di musim hujan) dengan harapan akan bertemu dan menikmati ragam acara Amatir Radio Hamfest. Lho bukannya hamfest kali ini diselenggarakan di ibukota dan berbarengan dengan even nasional Musyawarah Nasional ORARI yang akan menentukan arah kemana ORARI akan dibawa?

Okelah setelah berdiskusi dengan sohib, YB3TD dan tuan rumah YD0NGA akhirnya terbelilah two-way tickets Semarang-Jakarta-Semarang; walau akhirnya si OM Rivai nggak jadi berangkat ke Jakarta.

Sabtu pagi dengan penerbangan pagi akhirnya nyampai dan dijemput OM Fitra di Soetta dan langsung meluncur ke venue hamfest di lapangan parkir IRTI Monas (saya pikir pelaksanaannya di Monas itu sendiri).

Nah, arena hamfest itu sendiri akhirnya terdiri atas beberapa stand/booth yang berbentuk huruf  ‘U’ dengan centre point panggung yang terpasang organ/keyboard tunggal.

Titik temu pertama adalah booth dari YBDX-club alias club DX-ing dari YB-land yang secara spontan terbentuk via forum Blackberry Messenger; booth yang lain yang menarik adalah antena amatir radio produksi OM Nur, YB1DYU dan stand lokal Jatinegara yang menampilkan eQSO. Stand/booth yang lain tampak peminat Echo-Link dan booth 7.070Mhz. Booth selebihnya adalah booth para aktifis flea-market dan penyedia acesories yang lain; dari tee-shirt, pin, topi dan pelayanan bordir.

Adakah acara workshop? Ya, tertampil pada tenda peleton di ujung arena ada semacam sarasehan lebih tepatnya dibanding acara workshop adalah sarasehan mengenai ORARI Nusantara Net (ONN); sebenarnya cukup menarik sarasehan ini untuk memotret gambaran kegiatan net di Nusantara.

Ada lagi booth yang menarik?

Ya, jelas di ujung tengah/centre point arena adalah panggung gembira yang diisi dengan keyboard/organ tunggal dan diisi partisipasi dari rekan-rekan amatir seluruh Nusantara. Dan, nampaknya yang masih tergiang-ngiang di telinga ini adalah lagu yang lagi booming di Indonesia oleh mbak Ayu Ting-Ting – Alamat Palsu!

Kemana Kemana Kemana………….

Ya, kemana ORARI akan melangkah dan dibawa arah oleh Nakhoda yang baru? Let’s wait and see….~

Kira-kira apa persepsi Amatir Radio (baca: ORARI) di mata Breaker?

Sebenarnya tanpa disengaja bertemu dengan suami-istri di warung kelapa muda langganan kalau pas fun bike untuk sekedar melepas dahaga dan mengganti cairan tubuh; nah suami istri ini kebetulan ketemu bareng di acara fun bike; nah karena sang suami membawa perangkat komunikasi HT 2m iseng-iseng tanya:  wah seneng mainan radio ya? Itu radio apa pak? Di frekuensi berapa? Ikutan organisasi apa? Kebetulan beliau-nya membawa HT made in China single band VHF! (Coba kalau bawa Icom IC-2GAT) 😀

Nah, iseng-iseng pula tanya ikutan organisasi yang mana? yang berbaju hitjau atau ORARi terus gimana sih ORARI itu? nah, kali ini yang menjawab adalah istrinya: (rada kaget juga sih karena amplitudo-nya jadi meninggi)

ORARI itu :

  1. Anggota-nya orang intelek
  2. Anggota-nya orang-orang kaya
  3. Anggota-nya nggak suka kumpul-kumpul bersilaturahmi nggak segayeng paguyuban.
  4. Kalau dukom suka telat, susah koordinasi-nya!

Saya sendiri nggak habis pikir kenapa jawaban sang istri demikian sewotnya… ha ha…

Nah, saudara-saudara demikianlah first impression  dari mereka yang sama-sama pengguna frekuensi radio di negeri ini. Mungkin ada benarnya kali bahwa anggota ORARI

  1. Intelek, barangkali  karena pakai ujian amatir radio, langganan majalah CQ atau ARRL, suka nulis di buletin semacam BeON, suka bikin blog tentang amatir radio…. dll
  2. Orang-nya kaya-kaya, ya mungkin sesuai priveledge-nya punya all band transceiver tidak sebatas VHF 2m, antenna-nya tentu saja disesuaikan, belum amplifier, tower antenna, komputer, jaringan internet.
  3. Anggota-nya nggak suka kumpul-kumpul bersilaturahmi nggak segayeng paguyuban; nah ini rada susah juga. Beberapa kali pertemuan hamfest, training dan sharin knowledge rasanya lebih ramai tuh ajang jeng-jeng alias keyboard tunggal-nya, he he….
  4. Kalau dukom suka telat, susah koordinasi-nya! Ya rada bingung juga ya rasanya ‘dukom’ lebaran kemarin cukup ramai di VHF, HF 40m dan di layanan VOIP ada eQSO/iQSO dan echo-link.

Ya, apapun itu komentar dan pembelaan rasanya cukup bermanfaat untuk evaluasi diri. Quo Vadis ORARI Quo Vadis Amatir Radio Indonesia di tengah Law Enforcement tentang Radio Regulation dan Pemanfaatan Frekuensi yang sedemikian amburadul-nya?

Nah, mumpung pada mau ber-Munas di Jakarta besok 21-23 Oktober 2011 eh barangkali menjadi bahan pertimbangan ke mana mau dibawa Amatir Radio ini?

Atau barangkali ada yang menambahkan : Apakah persepsi Anda tentang Amatir Radio (baca: ORARI) di Indonesia? Monggo!

Sebenarnya kegiatan kontes, apalagi di tingkat nasional, sepertinya kayak ‘arisan’. Kali ini lokal/daerah ini jadi panitia dan tentu saja lokal/daerah yang lain jadi peserta. Jadinya berputar, persis kayak arisan.

Nah, berbekal prinsip arisan tadi dan sedikit idealisme menambahkan ‘semangat’ kontesting di tingkat nasional beberapa kali, 4 kali tepatnya menjadi panitia penyelenggara kegiatan kontes. Pse refer ke LSSC, alias Lawang Sewu Sprint Contest.

Ada hal positif dan negatif ternyata seperti jamaknya sebuah kegiatan. Ber-asyikmasuk dan bahkan kadang ber-sitegang di dalam penyiapannya termasuk mungkin di dalam menyusun aturan main alias petunjuk pelaksanaan sebuah kontes. Bikin weblog kalau perlu dan itu mesti harus dimantain dan diupdate. Kirim juklak, monitoring kontes pada saat pelaksanaan, administrasi paska kontes termasuk cross-check log secara manual. Manual nda, satu per satu! Dan yang terakhir adalah melaksanakan kewajiban terakhir mengirim sertifikat dan hadiah! Hadiah nda!

Nah, terbayang susahnya khan? Itu-pun belum lagi kalau ada peserta yang komplain. Kok juklaknya berubah, kok kemaki pakai weblog segala, kok kemaki pula pakai UBN report, sok begaya kayak kontes internasional? Macam-macam dah dan itu memang hal yang harus diterima dengan legawa!

Kesimpulan lainnya? Dana, yup betul dengan Dana, tak perlu-lah kita membentuk kepanitiaan yang bejibun personal-nya. Inti-nya kalau dana tersedia, cukuplah panitia terdiri atas Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Nggak perlu tambahan panitia lain yang terkadang cuma nampang di juklak panitia!

Kalau-lah kontes itu sukses Anda cuma dapat berita bahwa kontes ini sudah berlalu. Kalau ada masalah dalam kontes baru pada komentar, he he… memang enak kok jadi pendengar dan pemirsa itu. Tinggal komentar!

Jadi masih pengin jadi panitia kontes? Thinking it all over first, nda! Mending jadi peserta saja nda! atau cukup jadi Pendengar!

Mohon maaf kalau kurang berkenan!

Tanggal 16-17 April 2011, ORARI Daerah Jawa Tengah berencana mengadakan rapat kerja yang bertujuan antara lain menyerap ‘aspirasi’ anggota di tingkat lokal untuk dibawa ke tingkat nasional, barangkali apa yang disebut dengan munas alias musyawarah nasional ORARI.

Beberapa rapat panitia, kebetulan ditunjuk jadi seksi sidang, beberapa usulan yang terlontar dari pengurus lokal antara lain masalah ‘law enforcement’ terhadap pengguna frekuensi di band amatir, yang kayaknya semakin menjadi-jadi tanpa terkendali.

Satu lagi yang ditekankan adalah proses perpanjangan IAR yang relatif lama.

Saya sendiri pada tanggal 17 April tidak dapat langsung berinteraksi dengan suasana rakerda, karena ‘family matters’; namun saya cukup beruntung diberi kepercayaan pada tanggal 16 April, di Islamic Centre (venue tempat rakerda diadakan) untuk memberikan ya sekedar ‘sharing’ perihal operating procedure pada even kontesting, dx-ing dan digital mode bersama YB2KM, OM Djatmiko yang diberi slot bersama untuk menyampaikan operating procedure di kegiatan net lokal.

Melihat para peserta yang ‘pelatihan’ yang ditunjuk oleh pengurus lokal, saya percaya bahwa akan banyak antusiasme terhadap materi yang akan ‘di-jual’. Dengan berbekal teknik ‘training’ hasil traning TOT (Training On Trainers) saya coba jualan dengan modal dua buah notebook untuk simulasi digital mode, Kenwood TS450 untuk demo CAT dan elektronik Logger (N1MM Logger). Dan untuk sesi ice-breaking saya uji kemampuan receiving dengan simulasi Pile-Ups SSB contest yang saya comot dari WRTC-2000 dengan iming-iming DVD 3Y0X DX-pedition kiriman OM Wowok, YC0NHO.

Oke, sesi pertama YB2KM menyampaikan dasar-dasar operating kegiatan Net dan tata cara menyelenggarakan kegiatan net di pengurus lokal.

Oke…selesai sudah, akhirnya giliran YB2ECG memberikan sesi repeater, digital kontest, dx-ing dan kontesting. Melihat atensi peserta rasanya cukup interest dengan apa yang ditampilkan, simulasi digital mode dengan MixW, simulasi CAT+N1MM dan berharap pada sesi tanya jawab setelah makan siang akan banyak yang mengajak diskusi.

Pada sesi akhir, sebelum ISOMA, saya berikan kesempatan peserta untuk uji-nyali receiv SSB Pile-ups; dan hasilnya sangat bervariatif. Rata-rata hanya bisa menangkap sebagian, baik prefix dan suffix. Dan setelah dilakukan penilaian bersama terdapat beberapa peserta yang mampu logging dari pile-ups; diperoleh 4 peserta yang mampu logging secara sempurna; 1 orang peserta dengan 2 buah log, 3 peserta yang lain mampu ‘menangkap’ 1 station.

Banyak faktor yang mungkin bisa mempengaruhi; bisa dari kualitas sound-system yang dipergunakan, atau barangkali peserta terlalu terbiasa dengan mode FM dan belum terbiasa mendengarkan ‘irama’ ssb di HF atau pun mungkin belum terbiasa mendengarkan ssb di slot dx-window.

Great, istirahat sholat dan makan selesai, dan saatnya sesi tanya jawab. Saya pribadi berharap banyak pertanyaan yang akan timbul terhadap materi yang saya berikan, namun kayaknya kok nggak terealisir harapan itu. Banyak pertanyaan tertuju ke YB2KM perihal nama panggilan repeater, spelling ICAO, dan seputar aktifitas net.

Ya, bagi saya cukuplah hari itu saya ‘berjualan’; kalau laris ya lumayan kalau nggak laku ya ndak masalah. Namun, sedikit berharap karena ada beberapa peserta yang berniat ‘mencopy’ softcopy materi yang diberikan. Eh, siapa tahu nanti di rumah setelah mengulang dan mendengarkan pile-ups contest bisa termotivasi untuk mengikuti kegiatan dx-ing ataupun kontesting.

ya, namanya jualan bung….!

IAR selayaknya dokumen penting yang lain semacam SIM adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh negara dan sepatutnya merupakan dokumen yang secara hati-hati dipersiapkan oleh pihak yang berkepentingan. Tak tanggung-tanggung format IAR baru ini diatur secara khusus pada lampiran Permenkominfo No-33/2009.

Aturan sangat detail bahkan sampai ukuran point dan font yang digunakan, ukuran logo yang dipergunakan dan komposisi warna yang ditetapkan.

Dan, sebagai warga negara dan amatir radio yang baik IAR, alias Ijin Amatir Radio merupakan syarat mutlak secara legal untuk mempergunakan frekuensi radio dengan baik dan benar.

Tapi cobalah kita lihat dengan seksama dan hasil diskusi semakin kelihatan beberapa hal yang memperlihatkan IAR, sebagai dokumen resmi dikelola dengan sangat terbatas dan kurang profesional :

  1. Directorate General of Post and Telekommunications; awalnya rada bingung apakah ini tulisan bahasa Belanda atau Perancis, namun kalau melihat ada -of- nya dapat dipastikan ini adalah tulisan English: beberapa IAR rekan lain POST tertulis POSTS, dan TELEKOMMUNICATIONS tertulis dengan –C-.
  2. Amateur Radio License; beberapa kepunyaan rekan mempergunakan tulisan LICENCE; saya nggak tahu apakah kita lebih ke British English atau American English.
  3. Pada lembar sebalik, tertulis ketentuan pada butir no-2 : Izin Amatir Radio ini berlaku bagi pemegang sesuai nama dan tanda tangan; saya jadi heran di mana pemilik IAR membutuhkan tanda tangan, yang bertanda tangan cuma Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio. Sebenarnya akan tidak bermasalah kalau butir no-2 tersebut mempergunakan atau ; yang secara logika (eh, dulu pernah dapat pelajaran teknik logika) akan berlaku benar apabila salah satu bernilai benar. Hal lain akan bernilai lain kalau operator logika-nya dengan DAN (AND) artinya pernyataan akan bernilai benar apabila seluruh syarat terpenuhi.
  4. Format masa berlaku juga tidak seragam; kalau melihat IAR di atas dapat disimpulkan mempergunakan format DD/MM/YYYY namun ada yang menginformasikan format yang dipakai MM/DD/YYYY 😀

Nampaknya memang harus segera dilakukan tindakan perbaikan. Terlalu sayang apabila dokumen yang merupakan lampiran dari sebuah Peraturan Menteri direalisasikan dengan sembarangan, dan mestinya ORARI Pusat selayaknya dapat menginformasikan hal ini ke pihak Kementrian Komunikasi dan Informatika.

Kali ini ‘ketiban sampur’ (lagi) untuk mengurusi Lawang Sewu Sprint Contest series yang konon sudah menjadi kalender tahunan dari pengurus Orari Lokal Semarang.

Ya, menilik dari tajuk kontes-nya ada embel-embel sprint, tetapi kalau dilihat dari juklak-nya atau contest-rule-nya rasanya hanya biasa-biasa saja nih tanpa additional value yang menunjukkan kriteria sprint!

Oke-dah kalau begitu mumpung sok kuasa jadi ketua panitia, dan job-desc kepanitiaan saya tetapkan ketua panitia bertanggungjawab terhadap tersedia-nya juklak, maka saatnya untuk mere-juvenate makna Sprint itu sendiri di kontes Lawang Sewu.

Jelasnya untuk kriteria Sprint tiada lain adalah EU-Sprint Series dan AP-Sprint yang menjadi tolok ukur. Nggak masalah kalau kontes kali ini meng-imitasi kedua kontes ini.

Bagi yang pernah mengikuti AP-Sprint dan EU Sprint tentu akan menikmati nuansa sprint itu, aliasa betapa terengah-engahnya melakukan QSY dan logged, dan itu yang kepingin kita sodorkan ke khalayak AR di Indonesia (semoga aja bisa diterima); include penentuan juara hanya ada juara-1 s/d juara-3, tidak ada lagi juara call-area!

Memang banyak komentar yang muncul; skeptis, belum saatnya mengadopsi kontes internasional. Nah, kalau nggak sekarang kapan lagi. Mumpung YB2ECG jadi ketua panitia…. (he he …..).

Aturan baru perlu sosialisasi baru; itu mesti yang harus dikedepankan untuk AR di Indonesia. Beberapa komentar, yang tentu saja kita apresiasi, kita respons dengan baik.

Pengin ikutan Lawang Sewu Sprint Contest dengan rasa baru? Pse take a look at ‘Official’ Lawang Sewu Sprint Contest Blog pada : http://www.lawang1000sprint.wordpress.com silakan unduh juklak-nya dan kami tunggu partisipasi di tanggal 23 Oktober 2010 pukul 12.00Z-15.ooZ

See you on the band!

Tak terasa sudah hampir 5 (lima) tahun memegang lisensi sebagai Advanced Class alias Penegak di amatir radio ini. Dan sudah saatnya untuk memperpanjang lisensi alias ijin amatir radio yang hampir date expired alias kadaluarsa (kayak obat saja).

Tanya ke pengurus ORDA dapat informasi untuk persyaratan perpanjangan harus melengkapi, antara lain :

  1. Fotocopy KT/SIM, fotocopy IAR (Ijin Amatir Radio) , fotocopy KTA (Kartu Tanda Anggota), Fotocopy SKAR (Surat Kecakapan Amatir Radio) plus dua lembar materai @Rp. 6.000,-
  2. Membayar giro pos untuk ORDA Rp. 290.000,- giro pos ORLOK Rp. 320.000,- total Rp. 610.000,-

Ya, lebih dari setengah juta untuk lima tahun mendatang!

Ya, inilah sekali lagi hobby yang teramat luar biasa; mahal di investasi dan perijinan dan satu-satunya hobby yang memang diatur secara internasional dan dituangkan ke dalam sebuah peraturan menteri.

Mahal di investasi? Jelas, Anda tentunya tidak cukup bermain di segmen 2m only khan, perlu explore di 70cm, 6m, 10m, 15m, 20m, 15m, 40m, 80m dan 160m serta barangkali pengin kerja di WARC. Tentunya investasi all band transceiver. Antenna tentunya untuk mendukung priveledge harus disesuaikan, belum power supply dan assesories yang menyertai, belum lagi kalau hati Anda panas karena pengin njajal dung-dung-pret atau investasi amplifier untuk QRO!

Nah, kembali ke financial fee untuk meng-extend ijin amatir radio; cukup fantastis ternyata dengan Rp. 610.000,- ternyata lebih mahal dari pada untuk perpanjangan SIM mobil bahkan SIM roda dua, bahkan lebih mahal dari perpanjangan STNK kendaraan roda dua.

SIM dan STNK dalam bentuk pajak mungkin oleh negara (kecuali kalau habis dikorupsi) akan dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk penyediaan infrastruktur jalan, rambu-rambu, investasi jalan tol yang akan berdampak langsung ke pemakai kendaraan.

Nah kalau IAR apa yang didapatkan oleh anggota amatir radio di Indonesia secara nyata? Yang jelas mungkin nampak adalah aspek legalitas untuk mengudara di wilayah NKRI dan mungkin ke negara yang menjalin reciprocal agreement dengan Indonesia. Manfaat yang lain? Nampaknya organisasi (baca:  ORARI) harus belajar lebih lanjut ke ARRL ataupun JARL. Organisasi, IMHO, masih sekedar memberikan fungsi administrasi ke anggota, belum ke arah added value yang lain.

Atau mungkin iuran-nya masih terlalu rendah? Barangkali relatif! Sedikit ber-matematika 610 ribu dibagi 5 tahun = 122 ribu/tahun = 10 ribu/bulan= 2500/minggu. Cukup murah dibandingkan akses internet di warnet yang 2500/jam.

Mahal/murah tentunya relatif. Namun dengan menilik kondisi finansial individu yang berbeda dan pay-back organisasi ke anggota mungkin inilah yang menjadikan minat ke amatir radio menjadi sangat berkurang.

Kegiatan-kegiatan related ke ham/amatir radio nampaknya masih harus dengan cara saweran untuk penggalangan dana-nya, aspek pembinaan secara formal masih dilakukan oleh individu-individu yang masih peduli ke arah elmering. Penyediaan infrastruktur repeater, digipeater nampaknya pula muncul karena prinsip saweran tersebut. Buletin/majalah nampaknya pula masih terbit karena semangat grass root pula.

Ya hobby ini memang teramat luar biasa!

Mohon maaf apabila kurang berkenaan.

Sebaiknya apa yang dibicarakan pada saat eyeball sesama amatir radio? Isue organisasi, atau membahas usulan pembentukan ORARI Lokal Semarang Baru atau apa?

Bagi saya pribadi isu yang menarik adalah sharing experience walau saya buka berkategori expert. Dan yang paling menarik bagi saya adalah sharing experience tentang hamshack; bagaiamana membikin hamshack yang minimalis namun efisien.

Bagaimana dengan digital mode? Ah, sebenarnya rada ‘males’ gitu. Sudah terlanjur patah arang berteriak mengajak ke digital mode di lokal ini. Teman-teman kayaknya lebih tertarik dengan eQSO ataupun iQSO!

Namun, tidaklah mengapa. That’s the real! Dan menanggapi permintaan pengurus ORARI Lokal Semarang, yang diumumkan di kegiatan net lokal diundang seluruh anggota ORARI Lokal Semarang dan sekitarnya untuk ber-eyeball dan sekaligus sharing knowledge tentang dijital mode dan eQSO, akhirnya Minggu,8 Agustus 2010 diagendakan ketemuan di tempat YC2BTW.

Saya berekspektasi, ya karena sudah diumumkan di kegiatan net, banyak yang tertarik. Karena sebelumnya terdengar santer permintaan untuk sosialisasi eQSO karena kepingin membangun satu lagi gateway eQSO di Semarang.

Namun, setelah lebih dari 1 (satu) jam menunggu, akhirnya beberapa rekan yang bisa dihitung dengan jari dua tangan berdatangan. Fasilitas komplit dengan LCD Projector dan fasilitas hotspot dari YC2BTW.

Topiknya? Ya, sebenarnya sudah dipersiapkan PTT-interface untuk membuat gateway, namun sarana hardware PC dan radio belum siap, agenda sharing dialihkan ke materi alternatif : integrasi CAT+Logger+DX-cluster.

Materi dimulai dengan penjelasan individual perihal Logger, CAT dan terakhir perihal DX-cluster dan diakhiri demo intergrasi ketiga-nya. Respons so far sangat menarik, walau peserta minimalis, dari anggukan kepala rekan-rekan saya berharap penjelasan saya cukup mudah untuk dimengerti (ya, minimal mempraktekkan materi training TfT dari kompeni tempo hari).

Puas? Nampaknya belum. Workshop kalau boleh dikatakan begitu, akan sangat dibutuhkan ke depan. Nggak perlu lah peserta yang membludak, cukuplah peserta yang memang benar-benar tertarik di mode ini.

Atau memang ciri khas amatir radio Indonesia kali ya; kalau eyeball nggak ada acara jeng-jeng atau lomba teriak ‘iwak-iwak’ bukanlah sebuah eyeball. Semoga saya keliru.

Credit photo : thanks to YD2DOT!

73!

Me Myself

Last My tweet

Free counters!

Ubuntu+Ham

The Ubuntu Counter Project - user number # 23986

Blog Stats

  • 65,819 hits

Archives

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

The Guest

Visitor Clusters

iklan nih

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});