Sebenarnya kegiatan kontes, apalagi di tingkat nasional, sepertinya kayak ‘arisan’. Kali ini lokal/daerah ini jadi panitia dan tentu saja lokal/daerah yang lain jadi peserta. Jadinya berputar, persis kayak arisan.

Nah, berbekal prinsip arisan tadi dan sedikit idealisme menambahkan ‘semangat’ kontesting di tingkat nasional beberapa kali, 4 kali tepatnya menjadi panitia penyelenggara kegiatan kontes. Pse refer ke LSSC, alias Lawang Sewu Sprint Contest.

Ada hal positif dan negatif ternyata seperti jamaknya sebuah kegiatan. Ber-asyikmasuk dan bahkan kadang ber-sitegang di dalam penyiapannya termasuk mungkin di dalam menyusun aturan main alias petunjuk pelaksanaan sebuah kontes. Bikin weblog kalau perlu dan itu mesti harus dimantain dan diupdate. Kirim juklak, monitoring kontes pada saat pelaksanaan, administrasi paska kontes termasuk cross-check log secara manual. Manual nda, satu per satu! Dan yang terakhir adalah melaksanakan kewajiban terakhir mengirim sertifikat dan hadiah! Hadiah nda!

Nah, terbayang susahnya khan? Itu-pun belum lagi kalau ada peserta yang komplain. Kok juklaknya berubah, kok kemaki pakai weblog segala, kok kemaki pula pakai UBN report, sok begaya kayak kontes internasional? Macam-macam dah dan itu memang hal yang harus diterima dengan legawa!

Kesimpulan lainnya? Dana, yup betul dengan Dana, tak perlu-lah kita membentuk kepanitiaan yang bejibun personal-nya. Inti-nya kalau dana tersedia, cukuplah panitia terdiri atas Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Nggak perlu tambahan panitia lain yang terkadang cuma nampang di juklak panitia!

Kalau-lah kontes itu sukses Anda cuma dapat berita bahwa kontes ini sudah berlalu. Kalau ada masalah dalam kontes baru pada komentar, he he… memang enak kok jadi pendengar dan pemirsa itu. Tinggal komentar!

Jadi masih pengin jadi panitia kontes? Thinking it all over first, nda! Mending jadi peserta saja nda! atau cukup jadi Pendengar!

Mohon maaf kalau kurang berkenan!