You are currently browsing the tag archive for the ‘Digital’ tag.

 

Dr. Owen Garriott W5LFL. Owen died on April 15th, 2019 at the age of 88.
During his rich career, he was responsible for radio communications (CapCom) with the astronauts of the Apollo 11. In another period he was the deputy director of the Space Flight Center in the USA. Owen participated in the flight to the Skylab 3 orbital station (1973) and in the Columbia shuttle flight STS-9 mission (1983). Owen’s mission aboard the shuttle in 1983 turned out to be a milestone for amateur radio. According to AMSAT, he operated the world’s first amateur radio station from space W5LFL. It starts a new era of spaceflight combined with amateur radio. Since then, a lot of shuttle flights have been taking place, flights to the MIR space station and now to the International Space Station (ISS) with the participation of astronauts and cosmonauts serving and using radio amateur equipment.
SSTV transmissions from the International Space Station are possible thank to the involvement of many people – ARISS volunteers from around the world.

Cukup simple dan tegas mengenai siapa Owen Garriott, W5LFL yang secara khusus diselebrasi dari tanggal 1-4 Agustus 2019 dengan memancarkan image via SSTV dari stasiun ISS modul Rusia (RS0ISS).

Cukup beruntung dari last minnute, tanggal 3 Agustus 2019 pukul 23.26-23.30 saat stasiun ISS melintas 72 derajad di atas OI52fx. Cukup mudah untuk menerima transmisi di 145.800 MHz mode FM dengan mode PD-120. Sinyal lumayan luber.

Walau sedikit gerimis dan dikerubutin nyamuk, cukup menyenangkan melihat line-by-line Robot36 mendecode image SSTV.

Sama dengan pengalaman beberapa tahun yang lalu, sila flesbek ke sini, mendecode image sstv dari ISS cukup mudah; langkah yang harus dipersiapkan adalah (note: saya mempergunakan Android phone, Xiaomi Redmi Note-4, software yang dipergunakan tersedia di google-play)

  1. Cari perkiraan waktu ISS melintas di QTH Anda; saya mempergunakan ISS Detector Pro. Simulasikan laju pergerakan dari AOS/Acquisition Of Signal, TCA/Time of Closest Approach dan LOS/Loss oSignal
  2. Install Robot36 dan set mode ke PD mode-120 (konfirmasi ke pengumuman dari ISS)
  3. Saya mempergunakan dual band moxon-yagi yang biasa dipergunakan untuk komunikasi via satelite sehingga mudah untuk mendapatkan sinyal yang cukup.
  4. Setelah terdengar nada sstv dekatkan speakder dengan mikropone-android phone; segera akan terdecode image sstv yang dikirimkan. Atur arah antenna untuk mendapatkan solid-copy sinyal ISS.
  5. Setelah terdecode sempurna segera simpan hasil decode tersebut; image akan disimpan dengan format .png
  6. Segera submit untuk mendapatkan award.

Cukup mudah khan?

 

Single Op All Band Low Power #19 Indonesia, #22 Oceania

Beberapa minggu ini mupeng lihat beberapa seri Casio G-Shock, apalagi jam tangan yang lama GA-100 lama sudah rusak dan nggak bisa diperbaiki. Ada beberapa pilihan antara seri Gravity Master serie GA-1100 atau seri Mudman (ekonomis) serie GG-1000. Namun kalau melihat prejengane/appearance-nya kayaknya lebih ngganteng si GG-1000; lebih maskulin dan tangguh karena tahan debu dan strap-ban-nya warna hijau army.

GG-1000 sendiri ada beberapa varian yang secara mudah dibedakan menurut warna strap-ban. Hijau army, hitam dan khaki (dessert). Memiliki dua sensor; termometer dan compass.

  • Case / bezel material: Resin / Stainless steel
  • Resin Band
  • Mineral Glass
  • Neobrite
  • Shock Resistant
  • Mud Resistant
  • 200-meter water resistance
  • LED backlight (Super Illuminator)
    Auto light switch, selectable illumination duration (1.5 seconds or 3 seconds), afterglow
  • Digital compass (NORTH)
    Hand indication of north (20 seconds continuous measurement)
    Measures and displays direction as one of 16 points
    Measuring range: 0 to 359°
    Measuring unit: 1°
    Bidirectional calibration
    Magnetic declination correction
    Bearing memory
  • Thermometer
    Display range: –10 to 60°C (14 to 140°F)
    Display unit: 0.1°C (0.2°F)
  • World time
    31 time zones (48 cities + coordinated universal time), daylight saving on/off
  • 1/100-second stopwatch
    Measuring capacity: 23:59’59.99”
    Measuring modes: Elapsed time, split time, 1st-2nd place times
  • Countdown timer
    Measuring unit: 1 second
    Countdown range: 60 minutes
    Countdown start time setting range: 1 minute to 60 minutes (1-minute increments)
  • 5 daily alarms (with 1 snooze alarm)
  • Hourly time signal
  • Low battery alert
  • Full auto-calendar (to year 2099)
  • 12/24-hour format
  • Button operation tone on/off
  • Regular timekeeping
    Analog: 3 hands (hour, minute (hand moves every 10 seconds), second)
    Digital: Hour, minute, second, pm, month, date, day
  • Accuracy: ±15 seconds per month
  • Approx. battery life: 2 years on SR927W × 2

Adakalanya memang perlu menyamankan diri untuk sedikit menambah penampilan diri….jhahahaha.

 

Sebenarnya mungkin sudah tidak update lagi ya membahas Raspberry Pi; ya mungkin karena evolusi-nya sudah masuk ke Raspberry Pi-3; namun beberapa tulisan di majalah QST cukup menggoda untuk mencoba-nya, ya itung-itung belajar syntax Linux.

Paling mudah adalah order online via Tok*****ia; cari saja paket komplit lengkap dengan SD Card 16GB HC class-10, kabel HDMI plus power supply.

OS-nya saya coba dengan Raspbian; konon katanya yang paling populer; untuk instalasi menggunakan NOOBS; tinggal koneksikan kabel HDMI ke TV, keyboard dan mouse pada USB slot dan power supply langsung dah booting dengan sukses.

Untuk spesifikasi Raspberry Pi-3 adalah sbb :

SoC: Broadcom BCM2837
CPU: 4× ARM Cortex-A53, 1.2GHz
GPU: Broadcom VideoCore IV
RAM: 1GB LPDDR2 (900 MHz)
Networking: 10/100 Ethernet, 2.4GHz 802.11n wireless
Bluetooth: Bluetooth 4.1 Classic, Bluetooth Low Energy
Storage: microSD
GPIO: 40-pin header, populated
Ports: HDMI, 3.5mm analogue audio-video jack, 4× USB 2.0, Ethernet, Camera Serial Interface (CSI), Display Serial Interface (DSI)

Nah, rasakan menggunakan komputer dengan layar 42″ jhahahahaha….

Sasaran oprek adalah install KODI, alias program multimedia di Raspbian ini, sambil mengenal syntax linux. Next adalah install fldigi untuk digimode; Wow mantap mamen..

Karena dilengkapi dengan koneksi wireless cukup mengasyikan kalau Raspberry Pi ini dijadikan display youtube secara fullsize dengan format HD; malah mengalahkan ipTV-nya… he he…

Next project adalah melengkapi pi ini dengan LCD touchscreen; paling imut adalah 3.5″ atau kalau perlu 5″

Pretty clear; 10m seems a little bit hard due the propagation. But stil have fun and also the certificates.

cqwwrrty2015Not bad at all..

0295(1)Whip antenna, DR635 Alinco, Robot32, Lenovo P-780

Ashampoo_Snap_2015.08.17_15h45m51s_001_Gandalf akhirnya datang; selesai istirahat kecapekan upacara 17-an di kumpeni; iseng-iseng nyalain FT450D dan tune in di 6M. Pertama mencoba dengan mode JT65 dan sempatkan check in di hamspot. Sudah kirim chat nampaknya nggak ada respon.

Terus switching ke FB…..loh lihat OM Imam Cahyono, YB2VMC posting psk31 di highband. Akhirnya kasih koment dan sked di 6M.

Awalnya dengan Phone 30Watt, longpath (moxon menghadap utara) belum sempurna diterima di Jogja, naikkain ke 70Watt baru terdengar.

Gimana kalau dengan PSK31? nah perlu dicoba dong, akhirnya switch ke PSK31 dan voilaa akhirnya tercipta sebuah QSO yang sempurna di air terjun dengan running 45Watt.

Thanks OM Imam….You’re my first contact on PSK31! Merdeka……….!

Ashampoo_Snap_2015.05.03_04h49m26s_003_

Ashampoo_Snap_2015.05.03_04h45m38s_002_Focusing in 10M

Me Myself

Last My tweet

Free counters!

Ubuntu+Ham

The Ubuntu Counter Project - user number # 23986

Blog Stats

  • 65,819 hits

Archives

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

The Guest

Visitor Clusters

iklan nih

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});