You are currently browsing the tag archive for the ‘VHF/UHF’ tag.

11233258_10205877886961341_6278008174056961311_nJika yang lain mendirikan tiang bendera untuk17 Agustus-an, hari mendirikan tiang yang lain untukMoxon 6M yang lama terbengkalai…

Bermula dari urusan kompeni untuk mencarikan sebuah handy-transceiver untuk seseorang; gila bener seseorang ini pinter bener ‘meminta’ dan ‘mengarahkan’ alias ‘ngarani’ sebuah handy transceiver double band dan spesifik mengarah ke satu merk dan type: Yaesu VX-7R! ‘the dx-er choice’. Saya juga mau tuh VX-7R!

Dan rasanya di room shack untuk urusan handy transceiver masih belum lengkap; Icom IC-2GAT kayaknya terlalu sering iddle di room shack. Kayaknya perlu handy transceiver, double band dan tentu saja bisa dibawa kemana-mana.

Nah, calling sohib, YD0NGA, rekomendasi yang logis adalah handy transceiver made in China! Wow… dengan pertimbangan budget, sambil nunggu uang tabungan cukup untuk VX-8R, rekomendasi beliau adalah Baofeng UV-3R.

Benar saja, ke CME Solo, ternyata produk ini bener-bener sold out; dan ternyata pula Baofeng ini memproduksi secara custom untuk merk-nya. Bisa jadi tipe Baofeng UV-3R bisa berganti logo Weirwei, atau yang lain, atau kalau Anda mau bisa pesen dengan merk nama Anda! ūüėÄ

Dan ternyata rekomendasi YD0NGA nyatanya nggak salah, UV-3R ini mendapat respons yang positif di eham reviews. Sila cek di sini. Cukup bagus nilai 4.0/5 he he…. Bahkan om Julian, G4ILO pun sempet menulis di blog-nya cukup positif. Bahkan ada milis khusus UV-3R di yahoogroups.com juga ada¬†thread khusus di kaskus.us yang¬†bertema All¬†About Baofeng UV-3R. ¬†Cukup mengesankan.

  • Frequency Range: 136-174 / 400-470MHz
  • Dual-Band Display, Dual-Standby, Dual Display Output Power: 2 Watts
  • 99 Channels + 1 Emergency Channel 50 CTCSS and 104 CDCSS
  • Built-in VOX Function 1750Hz Brust Tone FM Radio (87.0MHz-108.0MHz) LED Flashlight Large LCD Display Hight /Low Power Switchable
    25KHz/12.5KHz Switchable
  • Emergency Alert
  • Low Battery Alert
  • Battery Saver Time-out Timer Keypad Lock Monitor Channel
  • Channel Step: 5/6.25/12.5/25KHz,
  • Operating Voltage 3.7V Operating Temperature¬† -30c~+60c
  • Battery (Li-ion) Antenna Impedance 50 ohm
  • Dimension(without antenna&battery(L√óW√óH) 47*81*23(mm)
  • Weight(with antenna&battery) about 130g
  • Transmitter RF Power Output UHF:2W/¬†¬†
  • FM Noise 65dB,Adjacent Channel Power 45dB/42dB Receiver
  • Spurious response rejection 60dB
  • Receiver current 400mA Standby Current 75mA

Bener-bener mungil di tangan dan pas masuk kantong. Dengan harga lk 600 rb include ongkir cukup menyenangkan untuk just play arround komunikasi lokal, tambahan featur VOX dan earpiece cukup menyenangkan untuk dipakai bergerak. Antenna bawaan adalah antenna double band, namun dari beberapa review performance-nya kurang dan disarankan menggantinya dengan antenna double band yang lain, dan rekomendasi-nya adalah Nagoya NA-701 (online sekitar 130 rb include ongkir).

So far cukup menyenangkan menggunakan UV-3R (sambil membayangkan memegang VX-3R ūüôā ); dengan fasilitas radio FM dan senter LED (he he…) plus alarm emergency yang akan melengking berbunyi nyaring sangat cocok untuk dibawa jalan-jalan. Mana ada VX-3R dilengkapi senter dan sirine alarm? Yang menarik lagi saat digunakan mendengarkan radi FM transceiver akan berpindah ke kanal VHF/UHF kalau pada frekuensi standby ada sinyal yang diterima.

Terus terang saja kalau yang kemarin minta Handy Transceiver nggak menyebut VX-7R saya berkeyakinan cukuplah dibelikan Baofeng UV-3R Mk-II aja; emang beliau-nya mau bekerja 50 MHz?So, kalau ada rekan-rekan yang membutuhkan sebuah handy transceiver yang kompak dan tiny di kantong dan budget kehadiran Baofeng UV-3R cukup menjanjikan; dibandingkan HT GMRS/FMRS semacam Motorola TalkAbout HT ini lebih berdayaguna karena bisa bekerja di band amatir.

Pengin tambah satu lagi sebenarnya untuk media latihan anak di rumah; tetapi nanti aja dah, barangkali YD0NGA atau YB3TD mendapat gratifikasi dan berkenan mengirimkan ke Semarang. Ha ha…..

skip teller

Disclaimer :

Mohon maaf, tulisan kali ini sangat mengandung material yang bukannya memotivasi, namun lebih cenderung memprovokasi dan menghasut.

Kalau kita mau berhitung, kira-kira berapa penggiat digital mode di YB-land? Digital mode di sini saya batasi pada live QSO, tidak ke sistem yang lain APRS. 100-an, 1000-an kah Amatir Radio Indonesia? Jawaban¬†jumlahnya¬†ternyata masih di bawah jumlah jemari tangan kita. Akan sangat ironis lagi kalau mau disurvey berapa lagi yang aktif¬† kontesting di mode ini….

¬†Beberapa kali membikin coret-coretan tentang digital mode dan sudah pula dilengkapi dengan beberapa survey [yang nggak pernah kembali, hehe…. nasib] beberapa kesimpulan awal kesulitan awal ber-digital mode antara lain, yang mungkin malahan jadi mitos:

  1. Harus mempergunakan HF Transceiver dan mode SSB.
  2. Harus mempergunakan interface serial COM atau USB komputer/notebook dan mahal.
  3. Hanya boleh digunakan tingkatan Penggalang dan Penegak?

Oke, dah… apakah mitos-mitos tersebut benar dan apakah perlu MythBuster? xi xi xi…..

Ceritanya iseng-iseng pula, berhubung tidak berlangganan majalah QST terbitan ARRL di W-land sana, kecuali ada yang mau berderma mensubcribe-kan diriku, he he….yang bisa dilakukan adalah membaca teaser-nya saja via internet. Oh, ada artikelnya KH6TY, Howard ‘Skip’ Teller di sana. QRZed KH6TY? KH6TY operator Howard ‘Skip’Teller adalah developer software Digipan, Digital Panorama dan cukup maniak pula di dalam upaya penyerbarluasan digital mode, khabarnya MixW merupakan kolaborasi juga antara Skip Teller dengan Nick, sehingga muncul MixW yang interface-nya sangat mirip dengan Digipan. Kerjasama terakhir dengan W1HKJ, melahirkan Fldigi untuk aplikasi NBEMS, Narrow Bandwith Emergency Message System. Di teaser-nya QST edisi Juni 2009, masih baru ya, ada tulisan Skip perihal Soundcard Interface untuk FM Transceiver yang menjadi topik tulisan kali ini.

Dengan googling akhirnya bisa didapatkan artikel Skip secara komplit di sini. Klik kanan dan save file pdf tersebut. Melihat artikel yang cukup provokatif pula, dan melihat design rangkaian yang sederhana cukup mudah untuk diaplikasikan.

Sebenarnya banyak rangkaian interface yang diaktifasi oleh voice, namun rancangan Skip ini lebih simple dan mudah.

Dengan rangkaian ini:

  1. Tidak diperlukan serial/USB interface sehingga setting COM/USB tidak diperlukan lagi.
  2. Bisa dipergunakan untuk FM Transceiver/HT yang tidak dilengkapi dengan VOX unit, sehingga tidak mesti harus mempergunakan HF Transceiver, seluruh tingkatan priviledge bisa mulai dan mempergunakan mode digital.
  3. Terbuka peluang mode digital yang lain, tidak sebatas mode psk, dan rtty…..

So, apalagi yang mesti ditunda untuk ber-digital-mode? Software tersedia gratis di internet, tersedia Digipan, FLDigi, MixW, dan lain-lain.

Simple Interface juga sudah tersedia, tidak lagi hanya untuk HF transceiver, namun dengan interface ini pula VHF/UHF FM Transceiver dapat mengaplikasikan mode ini.

Terima kasih kepada KH6TY, Howard ‘Skip’ Teller atas rancangan desain software dan interface. Kalau toh Amatir Radio di YB-land belum tergerak untuk ber-digitalmode, biarlah bang Oma Irama berkata : Terlaluuuuuuuuuuuuuu ……………….!!!!!!!!!

qfhApa yang Anda kerjakan seandainya memiliki FM Transceiver yang relatif lebar tidak sebatas alokasi band amatir. Aha…… apakah tidak penasaran melihat dunia lain? Kali pengin ndengerin pula komunikasi antar agen bis patas kali ya? Atau pengin mencoba weather satellite di 137MHz?

Diilhami tulisan Chris Van Lint, perihal portable/collapsible quadrafilar helix dan G4ILO perihal QFH akhirnya tergerak untuk mencoba membikin antenna QFH ini untuk weather satellite. Kalau beliau-beliau menawarkan tipe element mempergunakan coaxial cable nah yang saya coba bikin menggunakan elemen dari pipa tembaga 8mm untuk instalasi air conditioner dan tinggal melengkapi dengan 8 buah elbow 8mm.

Untuk software decoder mempergunakan wxtoimg cuma rasanya agak bermasalah dengan vista ultimate yang terinstall di notebook, prediction satellite mempergunakan orbitron.

Laporan trial menyusul ya, setelah downgrade dari vista ke xp! Keep in touch!

Nggak tahu juga, kenapa seorang amatir radio menikah saat CQ WW SSB 2008…..

Yap, betul Minggu Pahing, 26 Oktober 2008, jam 11.00 ‘adik’ saya akhirnya melaksanakan kewajiban sebagai seorang lelaki, menikahi seorang gadis, he he… wajib ya?

Mas Andang, YD2JZR akhirnya menikah juga, selamat ya mas Andang dan mbak Fitrie, semoga menjadi keluarga yang sakinah dan wawadah, Amieen.

Saya masih inget betul, saat pertama kali QSO dan eyeball dengan mas Andang. Yang menarik ternyata sebelum beliau ambil ujian amatir radio di Semarang, ternyata beliau telah menjadi ‘pendengar setia’, ini pengakuan beliau sendiri lho ya, ragchewing kita, YB2ECG, YB2EMK dan YB2ERL di 2m band. Dia ngaku tertarik ke amatir radio karena keseringan mendengarkan ragchew kita, yang menurut beliau, agak sedikit berbeda dari ‘pakem’ yang berjalan, kita lebih sering mengobrolkan perihal amatir radio, teknik dx-ing, contesting dan yang terakhir tentang digital mode, hal-hal pembicaraan yang sekarang secara relatif sudah banyak berkurang terdengar di ragchew 2m band.

Sangat menarik jadinya. Dan inilah sisi positif seorang amatir radio, dengan keyakinannya sendiri, ber-mualaf dari sekedar pirate station ke ‘truely’ amatir radio. Pertemanan itu semakin mendalam dengan saling bertukarnya, sharing, informasi mengenai amatir radio. Jadi inilah yang sebenarnya dibutuhkan sharing knowledge, sharing, antara yang ‘muda’, Novice dengan yang ‘tua’ General ataupun Advance class dengan tanpa persepsi saling menggurui. Semuanya dalam koridor saling melengkapi.

Sekali lagi, selamat buat mas Andang dan mbak Fitrie, segera urus itu perpanjangan IAR-nya. IAR’s fee is cheaper than this our ‘prestigious’ hobby.

Kalau boleh tanya; adakah satu mata kuliah khusus atau mata pelajaran khusus tentang amatir radio dengan segala pernak-perniknya? Kayaknya belum ada, terutama di YB-land. Nggak ngerti kalau di belahan bumi yang lain, atau barangkali di dunia maya justru ada semacam ‘contesting academy’?

Kalau boleh tanya lagi; apakah hobby yang satu ini, yang selalu memenuhi rongga benak kepala Anda ini, diteruskan oleh anak keturunan Anda? Saya kok pesimis, dua anak saya memang seneng utak-atik gadget, namun belum sepenuhnya tertarik dengan transceiver….

Dari beberapa postingan di milist orari-news perihal JOTA juga bikin perih, kok sampai begini ya….. Kepanduan, atau Pramuka sebenarnya merupakan bibit-bibit potensial di dalam pengembangan amatir radio ini….

Pertanyaan berikutnya adalah; apakah ada sesion khusus dari tingkatan Penegak, Penggalang untuk ‘menularkan’ pengalaman ke tingkat ‘di bawah’-nya? Kayaknya juga belum atau nggak banyak yang mau demikian. Bisa macam-macam alasannya :

  • Tingkat Penegak secara ‘de facto’ nggak memiliki kompetensi [baca:kapabilitas] kemampuan untuk itu.
  • Tingkat Penggalang/Siaga/Pemula nggak kepingin tahu lebih lanjut tentang amatir.
  • Tingkat Penegak nggak mau sharing pengalaman itu, karena berbagai alasan, yang barangkali takut dicap sok tahu, ‘kemlinthi’ dalam bahasa Jawa.
  • Nggak ada media yang tepat untuk melakukan sharing; lihat saja ham fest…. lihat dominasi susunan acara-nya.
  • atau alasan yang lain……..

Terus terang sebenarnya agak rikuh juga; melihat atribut-atribut yang dikenakan rekan-rekan amatir saat ketemu di ham fest atau eyeball atau bahkan muslok. Ada berbagai pin dan badge yang gagah menghias di baju uniform, dan iseng-iseng saya tanyakan apa itu badge/pin yang terpasang. Ada IOTA, NCDXF, ISS, IARU, ARES…..99.99% kagak ngerti karepe…….. ha ha….. capek deh.

Ya, Elmering di amatir radio Indonesia, YB-land, kayakanya sudah menjadi sesuatu yang langka, sepanjang yang saya tahu, please CMIIW.

Sudah sangat jarang pembicaraan di frekuensi, baik di 2m, 80m ataupun 40m yang membahas tentang pernak-pernik amatir radio. Sangat sulit ‘menggiring’ topik pembicaraan ke arah yang lebih ‘bermutu’ dari sekedar rag-chew! Sangat jarang ditemukan amatir radio ‘senior’ yang mau berbagi pengagalaman hidup sebagai amatir radio.

Ada saran…………? Atau saya yang terlalu pesimis dan banyak berharap dan menuntut?

Beberapa rekan pengin tahu, kayak apa sih station-nya YB2ECG? Ada yang beranggapan bahwa station ini begitu canggihnya, station QRO alias berdaya pancar besar sehingga dianggap wajar-lah bahwa station ini sering¬†‘memenangi’ beberapa kontes internasional. Walau sebenarnya kalau dikaji lebih dalam station ini adalah termasuk dalam station berkategory dhuafa, ha ha……

Seperti station amatir radio Indonesia yang lain, signboard station saya letakkan di depan rumah, sehingga apabila ada rekan-rekan yang melintas setelah melihat sistem antenna biasanya akan penasaran siapa pemilik station tersebut.

Sistem antenna yang saya pergunakan terdiri atas dua antenna high band dan low band; high band mempergunakan Hy Gain TH3-MKIV, ex YB2EMK, merupakan tiga elemen tiga band yagi terpasang pada guy wired tower setinggi 18m. Di bawahnya terpasang rotary dipole buatan YC1DYU melayani 80m dan 40m band.

Di bawahnya sekitar 21m terpasang vertical antenna untuk 2m/70cm VHF/UHF dari Diamond X30 kiriman OM Fitra, YD0NGA tempo hari.

Read the rest of this entry »

Me Myself

Last My tweet

Free counters!

Ubuntu+Ham

The Ubuntu Counter Project - user number # 23986

Blog Stats

  • 65,374 hits

Archives

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

The Guest

Visitor Clusters

iklan nih

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});