Single Op All Band Low Power #19 Indonesia, #22 Oceania

Advertisements

76th place World Single Operator All Band – RTTY

#2 Indonesian, #4 Oceania, Single Op Assisted Low Power 40m

Beberapa minggu ini mupeng lihat beberapa seri Casio G-Shock, apalagi jam tangan yang lama GA-100 lama sudah rusak dan nggak bisa diperbaiki. Ada beberapa pilihan antara seri Gravity Master serie GA-1100 atau seri Mudman (ekonomis) serie GG-1000. Namun kalau melihat prejengane/appearance-nya kayaknya lebih ngganteng si GG-1000; lebih maskulin dan tangguh karena tahan debu dan strap-ban-nya warna hijau army.

GG-1000 sendiri ada beberapa varian yang secara mudah dibedakan menurut warna strap-ban. Hijau army, hitam dan khaki (dessert). Memiliki dua sensor; termometer dan compass.

  • Case / bezel material: Resin / Stainless steel
  • Resin Band
  • Mineral Glass
  • Neobrite
  • Shock Resistant
  • Mud Resistant
  • 200-meter water resistance
  • LED backlight (Super Illuminator)
    Auto light switch, selectable illumination duration (1.5 seconds or 3 seconds), afterglow
  • Digital compass (NORTH)
    Hand indication of north (20 seconds continuous measurement)
    Measures and displays direction as one of 16 points
    Measuring range: 0 to 359°
    Measuring unit: 1°
    Bidirectional calibration
    Magnetic declination correction
    Bearing memory
  • Thermometer
    Display range: –10 to 60°C (14 to 140°F)
    Display unit: 0.1°C (0.2°F)
  • World time
    31 time zones (48 cities + coordinated universal time), daylight saving on/off
  • 1/100-second stopwatch
    Measuring capacity: 23:59’59.99”
    Measuring modes: Elapsed time, split time, 1st-2nd place times
  • Countdown timer
    Measuring unit: 1 second
    Countdown range: 60 minutes
    Countdown start time setting range: 1 minute to 60 minutes (1-minute increments)
  • 5 daily alarms (with 1 snooze alarm)
  • Hourly time signal
  • Low battery alert
  • Full auto-calendar (to year 2099)
  • 12/24-hour format
  • Button operation tone on/off
  • Regular timekeeping
    Analog: 3 hands (hour, minute (hand moves every 10 seconds), second)
    Digital: Hour, minute, second, pm, month, date, day
  • Accuracy: ±15 seconds per month
  • Approx. battery life: 2 years on SR927W × 2

Adakalanya memang perlu menyamankan diri untuk sedikit menambah penampilan diri….jhahahaha.

 

#4 Indonesia, #7 Oceania Single-op All Bands Low Power

ft8Sejatinya rada terlambat untuk mencoba mode baru varian dari JT-65/JT-9, dipublish pada tanggal 2 Juli di laman QRZnow, akhirnya hari ini iseng-iseng install WSJT-x versi 1.08 dan mencoba mode FT-8 ini. Untuk download sila ke sini. Dinamakan FT8 karena memang kombinasi antara Franke-Taylor design, 8-FSK modulation.

Apa kesan pertama menggunakan mode FT-8 ini? he he….ternyata serasa naik motor matik alias skutik. Kalau sebelumnya sudah install WSJT-x versi sebelumnya maka setting configuration-nya akan mengikuti, bahkan log ADIF-nya akan overwrite. Tapi no problem justru lebih menyenangkan.

Apalagi? Waktu transmit lebih pendek sekitar 15 detik dan menariknya lagi, serasa skutik-nya yang tadi, sekali kita klik merespon sebuah CQ dan meng-enable-kan TX serta direply oleh lawan QSO maka otomatis akan dikirimkan reply secara sequent sebuah QSO. Kalau toh, lawan QSO belum reply maka syntax macro yang bersesuaian tetap dikirimkan sampai closed QSO ditandai dengan pop-up untuk save log! Nah baru kita aktif-kan halt-tx biar bisa closed. Benar-benar otomatik.

logger32 FT8

Apa yang menarik lagi? Ternyata Logger32 versi terbaru dan e-QSL sudah support FT-8 so segeralah mencoba mode baru FT-8 semoga tidak ketinggalan dan bisa dikatakan menikmati kekinian…….

Agak bingung mendiskripsikan sertifikat tanah eh kontes ini; ya udahlah #1 Indonesia, #1 Oceania , #17 world Single Op, assisted Low power 40m

Single op, low power 40M 2016 CQ WW Contest CW

Terkadang muskil untuk ikutan di kategori 80m band, ah mana mungkin dapat skor dan mendapatkan sertifikat. Namun hal yg dirasa imposibel jadi posible..yang penting kata juragan saya Gas pol rem blong.

#2 Oceania, #17 World is pretty clear

Sebenarnya mungkin sudah tidak update lagi ya membahas Raspberry Pi; ya mungkin karena evolusi-nya sudah masuk ke Raspberry Pi-3; namun beberapa tulisan di majalah QST cukup menggoda untuk mencoba-nya, ya itung-itung belajar syntax Linux.

Paling mudah adalah order online via Tok*****ia; cari saja paket komplit lengkap dengan SD Card 16GB HC class-10, kabel HDMI plus power supply.

OS-nya saya coba dengan Raspbian; konon katanya yang paling populer; untuk instalasi menggunakan NOOBS; tinggal koneksikan kabel HDMI ke TV, keyboard dan mouse pada USB slot dan power supply langsung dah booting dengan sukses.

Untuk spesifikasi Raspberry Pi-3 adalah sbb :

SoC: Broadcom BCM2837
CPU: 4× ARM Cortex-A53, 1.2GHz
GPU: Broadcom VideoCore IV
RAM: 1GB LPDDR2 (900 MHz)
Networking: 10/100 Ethernet, 2.4GHz 802.11n wireless
Bluetooth: Bluetooth 4.1 Classic, Bluetooth Low Energy
Storage: microSD
GPIO: 40-pin header, populated
Ports: HDMI, 3.5mm analogue audio-video jack, 4× USB 2.0, Ethernet, Camera Serial Interface (CSI), Display Serial Interface (DSI)

Nah, rasakan menggunakan komputer dengan layar 42″ jhahahahaha….

Sasaran oprek adalah install KODI, alias program multimedia di Raspbian ini, sambil mengenal syntax linux. Next adalah install fldigi untuk digimode; Wow mantap mamen..

Karena dilengkapi dengan koneksi wireless cukup mengasyikan kalau Raspberry Pi ini dijadikan display youtube secara fullsize dengan format HD; malah mengalahkan ipTV-nya… he he…

Next project adalah melengkapi pi ini dengan LCD touchscreen; paling imut adalah 3.5″ atau kalau perlu 5″

Me Myself

Last My tweet

Free counters!

Ubuntu+Ham

The Ubuntu Counter Project - user number # 23986

Blog Stats

  • 62,167 hits

Archives

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 9 other followers

The Guest

Visitor Clusters

iklan nih

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Advertisements