Bermula dari keinginan untuk memindahkan ruang radio, atau kita-kita menyebutkannya roomshack atau radio-shack dari ruang samping belakang ke ruang ‘sebelah’ yang Alhamdulillah ada sedikit rejeki walau dengan ‘mencicil’ dapat diakuisisi. Keinginannya hanya satu private room khusu radioshack, lengkap dengan dipan yang langsung bisa dipakai kalau kantuk nggak tertahan saat kontes, dan pula radio-shack yang lama pas di tepi jalan dan akan cukup ‘memalukan’ kalau teriak-teriak pada mode phone saat dini hari, dan lagian deket dengan ‘kebun’ yang rentan dengan nyamuk dan illegal intruder – tikus –😀

 Nah, dengan perpindahan room shack tentu saja konsekuensi-nya adalah memindahkan akses kabel coaxial dari tribander, rotary dipole dan diamond X-30 (UHF/VHF) plus kabel rotator ke ruang yang baru. Sok berlagak masih muda dan kuat, tanpa memperhitungkan risk analysis (walau di kantor sering ngajarin identifikasi risk dan dampak) pagi-pagi, di hari Jum’at, mumpung libur tiga hari, si Old-Man YB2ECG sudah naik dan nongkrong, serta narik kabel di atas genteng.

Nah, saat mencari route yang terbaik untuk memasukkan kabel mau tidak mau harus melewati genteng ‘asbes’ di atas garasi sebelah. Langkah preventive sebenarnya sudah dilakukan dengan menambahkan papan kayu dan genteng beton. Namun saat hendak melangkah menjauh kok tiba-tiba gdubraak……sadar-sadar si old-man sudah ‘terpapar’ di antara sepeda motor Bajaj Pulsar dan Hondak Bebek.

Nah, ciri khas orang YB-land, apapun ‘kecelakaan’ yang menimpa, selalu merasa masih untung. Ya, untung beban 80kg tidak langsung terlentang di lantai keramik garasi namun masih nyangkut di antara dua sepeda motor😀 Nah, damage cost yang pasti timbul adalah genteng ‘asbes’ bolong sebanyak dua lembar, tanki Bajaj Pulsar penyok tertimpa si-OM dan ditambah benjol di kepala dan lebam serta sakit di pinggang….Nice lesson!

Apakah si-OM trauma dengan kejadian ini? Tentu saja tidak. Selesai mengobati luka dengan beta***ne, si-OM manjat lagi untuk menyelesaikan reroute kabel dan kali ini lebih mudah karena genteng memang sudah bolong, hi hi…… dan melanjutkan re-layout ruang radio. Seperti gambar di atas meja shack menggunakan meja belajar punya Iqbal yang nggak terpakai. Cuma ada kendala ergonomis untuk meletakkan LED monitor. Akhirnya diakali CPU (menggunakan Acer Aspire 2720) ditambahkan USB keyboard, diletakkan di atas papan atas dengan tambahan divider lengkap dengan CPU cooler. Monitor diletakkan di atas meja, sehingga ergonomis pandangan mata tidak terganggu.

Dinding masih kelihatan ‘kecumut’ belum sempat di-cat, dan rencana-nya akan menjadi wall of fame, tempat menggantungkan sertifikat elite hasil kontes. Sudah tersedia lk 11 sertifikat series CQ WPX dan dua buah seri CQWW serta 3 bh ARRL series, 3 buah EU Sprint dan beberapa sertifikat. Cuma masih mencari vendor frame yang murmer, bayangkan kalau satu pc frame (untuk DXCC) jenis simple minimalis seharga Rp. 30.000 x 30 bh = Rp. 900.000,- jumlah yang fantastis untuk investasi frame!

Apa yang menjadi lesson learning hari ini? Sadari bahwa kita memang sudah Old-Man (sesungguhnya), hargai kesehatan diri, kalau memang mau melakukan pekerjaaan beresiko lebih baik di-mitigasi dengan menyuruh orang lain, alias memindahkan risiko ke pihak lain. Karena nyatanya pekerjaan reroute kabel coaxial akhirnya menggunakan tukang yang sekaligus melakukan penggantian genteng ‘asbes’…..he he… impas juga khan?

Semoga bisa menjadi pelajaran yang berharga.