Sebuah Organisai yang ‘hidup’ tentu-nya hidup dari peran serta aktifitas anggota-nya dan memberikan asas manfaat kepada anggota tentunya. Apalagi organisasi yang non profit semacam ORARI.

ORARI Lokal yang menjadi ujung depan pelayanan anggota juga mestinya demikian pula, harus hidup dan memberikan hidup alias bermanfaat, kalo nggak ya mending ‘closing down’ saja…. alias STOP/SK.

Aspek finansial, tak pelak lagi adalah BBM untuk menggerakkan roda organisasi-nya, namun coba dibayangkan apabila BBM tersebut kering-kerontang, OUT of GAS, karena ditilep oknum-nya, alias dikemplang, kapan roda akan berputar dan bergerak…..

Ada financial cost rutin yang harus ditanggung; sewa kantor, operational fee, gaji karyawan [lho iya…. ada hak karyawan alias gaji yang harus dibayar, kalau bisa minimal UMR].
Terus, didapat dari mana financial resources tersebut…. Apakah mengandalkan dari iuran anggota…… emang berapa orang yang mau mendaftar, atau memperpanjang IAR-nya…. lha wong nggak mbayar saja masih bisa main radio seenaknya dan kalau diingatkan malah lebih galak?
Apakah harus hidup dari ‘derma’ donatur anggota-nya? Terus sampai kapan?

Lha terus fungsi organisasi kemana? Apa added value yang bisa
diberikan organisasi ke anggota-nya? Kasar-nya apa payback-nya ke anggota? Kapan kewajiban organisasi yang nota bene menjadi hak anggota akan ‘terlunaskan’? Semisal pembinaan, penyelenggaraan event…. dan saya yakin pula; untuk menyelenggarakan event, kontes misalnya, tetep muncul kegiatan ‘tangan di bawah’ alias menengadah ke donatur?

Saya percaya amatir radio, yang karakteristiknya ‘self training’ nggak perlu susah amat mencari resource pembinaan dalam kerangka peningkatan kecakapannya… tapi apa ya mesti terus begitu. Nggak bisa-kah resource tersebut dikumpulkan oleh organisasi dan diatur sedemikian rupa hingga lebih sangkil dan mangkus….?

Belum lagi isue pengurus yang nggak didukung atau disukai oleh sebagian anggota-nya….jadi puyeng nih ngikutin spinning-nya organisasi ini….muter terus nggak ada juntrungnya.

Mirip dengan organisasi profit, kali, memang harus realistis tanpa patah arang mencari akar solusi… kalau memang harus ya mesti diambil tindakan tegas.
Reduce operating cost; nggak mungkin anggota terus menanggung beban operational cost organisasi. Memang terasa sakit, namun kayaknya memang harus sakit dulu sebelum menjadi sakti.
Ya kembali karena memang organisasi ini bukanlah profit centre; kecuali kalau muncul ide kreatif usaha yang mendatangkan profit.

Terkadang sempet kepikir, kayaknya konsep yang dipakai ARRL mungkin lebih menjanjikan. Nggak perlu tuh konsep pengurus lokal, yang ada cukup satu perwakilan di pusat/daerah, di bawah cukuplah berupa club-club yang bisa swakelola dan swa sembada…..amatir radio bisa masuk ke club-club yang dirasakan memberikan added value. Kalau nggak ngapain join, dan menghabiskan cost yang nggak jelas profitable [bukan berarti kapitalis lho ya].

Club yang spesifik akan sangat mendorong kemajuan penggiat amatir radio itu sendiri; yang mau digital mode, yang mau satellite, yang mau dx-ing, contesting monggo tanpa perlu merasa eksklusif….
Dan rasanya akan donasi di kalangan club akan sangat terasa karena didasarkan atas kesadaran berorganisasi [ujung-nya adalah asas manfaat dari dana yang terkumpul jelas peruntukannya].

Cuma masih pesimis pula bisakah konsep ini diaplikasikan di YB-land. Rasanya kembali ke akar masalah; dapat IAR/lisensi adalah sekedar untuk tameng, aspek legal penguasaan perangkat radio, nggak lebih…..

Eh, rasa-rasanya kok mirip para ‘pendekar’ JR yang kemari ya….🙂

Mohon maaf menjadi pelampiasan curhat….
[masih memimpikan IARTS, Indonesian Amateur Radio Telegrafi Society…….ya semacam BARTG atau JARTS], he he…. heh bangun…..!
Hidup RTTY…. nah Loch….