logo

Akhirnya saat itu nyampai juga; setelah rata-rata lebih dari 10 tahun akhirnya keluarga yang terpisah itu bisa dikumpulkan dan berhimpun dalam suasana yang berbeda; berbeda karena kayaknya anggota keluarga sudah bisa mandiri dan tidak seperti dulu kala, sebagai anak kos.

83_89Acara lebih banyak diisi dengan ngobrol, ya namanya ketemu teman atau sahabat lama. Nggak banyak berubah dari rekan seangkatan dan kakak angkatan. Dihadiri alumni dari angkatan 83 sampai dengan angkatan 2003, serangkaian acara diisi dengan sambutan panitia, sambutan alumni pertama, pak Harjanto Prabowo (angkatan 83) disusul sambutan pak Sudjadi sebagai Ketua Jurusan dan pak Sulasno sebagai sesepuh jurusan.

Acara hebatnya pula disisipi dengan Paduan Suara dan Nasyid dari Jurusan, hebat euy, masih sempet bikin paduan suara dan Nasyid, diisi pula talkshow tentang bekerja sebagai karyawan vs bekerja sebagai interpreneur, diisi oleh mas Widyo Winarno dan mas Hery Isnanto [83] dipandu oleh mas Rizki/OM Penthong [90].

Dan maaf mungkin posting kali ini agak panjang. Mumpung masih dalam suasana berbunga-bunga.

Setelah berkoordinasi via email, milist bahkan sms dan pembicaraan telepon, Alhamdulillah keluarga 89 dapat hadir dan unjuk muka mewakili angkatan 89 dalam reuni akbar kali ini 1983-2003,  sebuah rentang yang sungguh luar biasa. Sedikit ‘profile’ angkatan 89 yang berhasil dan berkenan hadir :

jampez Nama aslinya keren, Arief Rusihan Rusmin, namun kami lebih suka memanggilnya dengan nama Jampes, pengin tahu artinya ‘Jampes’ silakan googling atau kalau tidak tanya kepada tetua-tetua di pedesaan di Jawa pasti mereka bisa memberikan jawaban yang pasti.

Nama Jampes sendiri diberikan saat opspek 89 dan kegiatan kemah Bakti 89 di kebun Polo, Ungaran, di belakang GITET/SUTET Ungaran, namun beliau inilah yang menjadi ketua kelas kami, komting, komandan tingkat atau mungkin lebih tepat komandan sinting angkatan 89.

Setelah terkena badai krisis 97 beliau pulang mudik ke kampung halaman dan rebound menjadi owner perusahaan pribadi dan look he drove a prestious car for coming this event. Congratulatin brother.

Tak banyak berubah penampilan dari komting kami ini, masih berambut ikal seperti vokalis band, masih humble dan masih terasa gregetnya sebagai komting. Memang komting adalah jabatan abadi……..

priyoAnother wiseman di angkatan 89 adalah pakde Priyo, nama lengkapnya adalah Priyo Sasmoko, asli bikinan Sragen, dan barangkali masih berbau kraton Solo, terkadang pendapat-pendapatnya yang wise menjadi referensi kegiatan dulu saat masih ‘kuliah’ di Tembalang.

Dari tersesat bareng latihan dasar pertama Philar [Penempuh Rimba dan Hutan Belantara, Elektro Undip] bersama Wapeala, pakde memberikan nafas dan warna tersendiri pada setiap kegiatan outdoor angkatan 89; dari pesta hunting duren hingga kamping di Plabuan, Batang di pinggir pantai Utara…..

Dan nampak pula tidak ada perubahan yang bermakna pada diri pakde Priyo setelah 13 tahunan berpisah……. masih dengan low profile namun tetep style pede dan wise.

florentinus Inilah dia the Nerd dari Angkatan 89; lulusan tercepat dari Angkatan 89 dan menjadi referensi tempat bertanya saat ujian mid, tentamen ataupun ujian resmi, dan Flor dengan senang hati akan memberikan penjelasan secara lugas dan humble.

Dan nggak berbeda dari track record semasa kuliah, Flor akhirnya memilih menjadi pengajar dan terakhir sudah berhak menyandang gelar Doktor di depan nama dan ST MT di belakang namanya. Congratulation bro. You’re the ICON of class 89!

Masih seperti yang dulu, cuma berubah warna saja di rambut…… menjadi pertanyaan besar kenapa yang cepat berubah adalah warna rambut ya…. apa mungkin terlalu bekerja keras di dalam studi lanjutan hingga membuat rambut terdegradasi……..

karnotoKarnoto, asli bikinan Purworejo, adalah salah satu alumni yang kembali mengabdi ke almameter sebagai pengajar, namun nggak ada hubungannya dengan siklus Karnot di mata kuliah Thermodynamika jadul. Ha ha…

Sama seperti Flor, yang berubah adalah rambutnya, he he….. jangan marah bro. Dan kumis yang semakin hitam melebat.

Masih kecil seperti dulu, dan kami bersyukur bahwa Karnoto, berkenan hadir, ya minimal sebagai tuan rumah mewakili angkatan 89.

Kami berharap pula beberapa rekan 89 yang menjadi pengajar suatu saat bisa dan berkenan hadir, menemui saudara-saudara-nya.

riri Apa yang bikin menarik sebuah taman dengan berjubel-nya serangga dan kumbang kecuali beberapa kuntum kembang…… wuih…..puitis bener.

Ya betul di balik kegiatan outdoor yang perfectly almost gila di angkatan 89 tersupport oleh kehadiran kembang-kembang ini.

Dan kehadiran Riri dan Vanda benar-benar surprise, karena memang tidak diawali dengan konfirmasi kalau beliau-beliau ini berkenan hadir, thanks Riri & Vanda.

Masih inget bener saat-saat jadul Nissan Trooper-nya Riri menjadi andalan seluruh kegiatan outdoor angkatan 89. Mengantar kemah bakti ke Gedong Songo, pesta duren ke Jepara dan Gunung Pati merupakan saat-saat yang precious.

Masih inget pula kiriman doa’mu yang kaudapatkan dari nenek, yang akhirnya kusadari, adalah doa Nabi Musa AS saat menghadapi Firaun, saat aku hendak menghadapi ujian Tugas Akhir…. Thanks so much.

Ehm, masih cantik seperti dulu, mirip dengan Tasya lho kalau diamati lebih dalam namun kayaknya dari penerawangan ada sedikit ‘mendung’ . Kenapa ya Ri?

Ya…….kenapa pula begitu terlambatnya sebuah awal.

vandaAh, satu lagi perempuan hebat di angkatan 89 : Vanda. Hebat dan terkadang agak gila. Masih ingat saat selalu mbonceng Isuzu Panther beliau, dan kami cowok-cowok seperti biasa jadi navigator…. he he he…… dan Vanda tidak akan sekali pun memberikan jalan bagi mobil yang hendak menyalip dari sebelah kiri……. ha ha…

Masih inget bener saat-saat kamping ke Plabuan, setelah dilanda berbagai masalah, tersesat dan kemalaman di tempat ‘perkemahan’, setelah dropping ke lokasi dengan Panther-nya, Vanda pulang ke Semarang dan gilanya lagi keesokan harinya beliau menyusul kembali ke Plabuan, ha ha…. bener-bener gila.

Thanks Van atas segala support-nya. Tiada kecerahan tanpa kehadiranmu, ceile…. dan kehadiran yang tak terduga merupakan surprise yang sangat manis.

rinoRino, ya Rino tanpa ‘H’ komplitnya Rino Cahyo Nugroho, asli bikinan Solo, ngakunya……..ndak tahu Laweyan [25km dari Solo], he he…. namun tetep ngaku orang Solo.

Ada yang berubah dari bos satu ini, he he…. beliau sudah nggak pakai kacamata lagi, ndak tahu apakah beliau pakai soft lense atau mungkin sudah operasi Lasik, ha ha…. agak beda aja melihat beliau nggak pakai kaca mata. Dan satu lagi………. he he… beliau malahan merokok di saat orang-orang berhenti merokok. Tuntutan pekerjaan katanya, ha ha…….

Hampir tersesat ke kampus Tembalang, karena tidak terupdate informasinya, namun Alhamdulillah ketemu dengan pakde Priyo dan Jampez hingga akhirnya beliau di-pick dan bareng-bareng ke Patra Jasa.

lukitoSatu saudara yang sama-sama kelahiran November bahkan berturutan tanggal ultahnya adalah Setyawan Lukito, lebih terkenal dengan paman Dolit, karena kebiasaannya beliau pakai topi mirip tokoh Paman Dolit di TV Surabaya tempo dulu….

Masih ber-kacamata, nggak banyak perubahan dari beliau. Asli Semarang dari daerah Kelengan, masih inget saat-saat bersama mengerjakan laporan Kerja Praktek di Bandara A Yani tentang DVOR dan NDB. Sempet pinjam komputer OM-nya di kantor beliau di jalan Mataram karena mana mampu saat itu punya PC, yang saat itu populer menggunakan Chi Writer sebagai word processing. Wordprocessor paling laku di kalangan mahasiswa teknik mengalahkan Wordstar 2000 dan WordPerfect. Windows? Ah, belum lahir tuh OS, ha ha….. lha wong masih pakai XT dan mending ada AT80286, ha ha….

paijoLast but not least, that’s me.  Masih setia berdiam di Semarang dan pada kompeni yang sama. Teman-teman memanggil dengan nama Paidjo, nggak tahu kenapa? Masih inget yang memberi nama pertama adalah Rudy Setiawan AK Nyamuk, yang sayang kali ini belum bisa hadir.

Teknik Elektro merupakan pilihan mati kayaknya, ha ha ha….

Banyak riak-riak kecil dalam perjalanan nasib. Banyak support dan dorongan dari rekan-rekan 89 dan bahkan sampai sekarang support dan dorongan tersebut masih terasa sedemikian kuat.

Ada rasa sesak yang mencekat di dada, namun sangat disadari bahwa merupakan bagian dari sebuah proses; ya proses pendewasaan.

Tiada sesal, karena memang tiada yang harus disesali. Dan tetap yakin, seperti spanduk kemah bakti angkatan 89 di Kebon Polo, bahwa that’s the way we’ll always say the best.

Thanks guys and girls. Sangat bangga menjadi bagian dari angkatan 89. Terima kasih pula telah saling memberikan warna pada langkah-langkah itu.

Apapun itu, terasa sangat manis untuk dikenang dan Insya Allah nggak mungkin terlupakan.

Apapun………