Kali ini adalah kunjungan kali kedua INS-99, seorang manusia langka. Kenapa langka? Karena OM Kustiyono, adalah satu-satunya, sepanjang yang saya tahu, seorang SWL-er yang aktif dan rajin mengikuti even kontesting di tingkat internasional. Baik mode CW, Phone dan RTTY.

Prestasi-nya juga sangat lumayan, terutama di series contest-nya Work All Europe, baik WAEDC mode CW, SSB dan RTTY, kalau ndak salah sudah lebih dari 19 tahun mengikuti serie WAE! Luar Biasa!

Kunjungan INS-99 didampingi anak perempuan-nya mbak Lia, dan kami isi dengan sedikit demo tentang aplikasi APRS dan kayaknya mas Kustiyono tertarik. Dan lebih menarik lagi ternyata beliau berkehendak untuk ikut ujian amatir pada periode mendatang. Selamat mas Kus!

Saya pribadi, mengawali ‘karier’ di amatir radio juga bergerak dari kegemaran menjadi SWL sejak duduk di SD dengan radio Nasional 3 band, AM-SW1-SW2, berebutan dengan bapak yang suka ndengerin langgam jawa/klenengan dari RRI digantikan saluran BBC London, VOA dan Radio Australia.

Masih inget pula tiap tahun minta dikirim pedoman acara dan foto-foto dari penyiar radio-radio tersebut. Masih inget kirim pakai kartu pos warna coklat muda, dengan perangko Rp 500,- dan pada saat menulis-nya biar rapi, di kartupos dibikin dulu garis dengan pensil tipis baru setelah selesai dihapus lagi dengan karet penghapus….. he he… nice story.

Sempet juga ikutan semacam ‘miling list’ kelompok pendengar, pernah beli pula kaos ‘uniform’ dari CP Rasbi, yang ini adalah kependekan dari Club Pendengar Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia, dimana banyak ‘bercokol’ pula teman-teman yang kemudian jadi amatir radio, semisal Kadek Kariana SP (YB9BU). Masih inget tuh kaos bergambar burung Kookabura, burung yang siulan-nya secara khas menjadi opening Radio Australia.

Berhubung kondisi ekonomi yang sulit memiliki sebuah all band receiver adalah sangat mustahil. Sempet kepingin SONY serie ICF namun apa daya, hanya sebatas mimpi. Rasanya lebih ‘gandem’ ndengerin pakai radio Nasional 3 Band bapak….. Suara Istas Pratomo, Nuim Khaiyat, Hidayat Djaya Mihardja, Joe Coeman, Ebet Kadarusman, Djuni Fazil Djamaludin, lebih enak dan nyaman….

Antenna? Ya good question, berbekal dari panduan dari Radio Australia, pernah bikin antenna dipole dan longwire antenna dari kawat bekas gulungan motor dari bengkel motor sebelah. Isolator gelas saya ambilkan dari kantor Kecamatan, tempat bapak kerja, bekas isolator saluran telepon he he…. Saya ikatkan antara tiang rumah dan pohon di belakang, dan mungkin karena kekencangan mengikat-nya, pas datang angin yang agak besar, putuslah antenna kawat tunggal tersebut.

Ya, dibandingkan dengan INS-99, yang mengeksplor lebih lanjut dunia SWL sangatlah jauh. Saya hanya sebatas mendengarkan, just listening, belum mengikuti mendengarkan kegiatan kontest radio amatir.

Pengalaman pertama mendengarkan band amatir adalah di band 80m, di channel SW-1 di radio saya. Ndengerin ‘pirate station’ yang bekerja di 80m AM, pengalaman berikutnya adalah mendengarkan isyarat SSB dengan cara mem-beat satu radio dengan satu radio yang lain: radio Nasional 3 band saya deketi dengan radio yang lain pada band yang sama terus radio yang satu diputer band tuning-nya sehingga didapatkan isyarat SSB yang relatif jelas. Saat itu dengan senang hati bisa mendengarkan komunikasi antar bank yang melakukan transaksi kliring kalau ndak salah…..

Pernah mencoba mengikuti kelas SWL pada satu event, ternyata begitu sulit-nya saya rasakan. Kalau jadi pelaku kontes kita tinggal kirim, minta diulang kalau belum jelas, dan cuma me-log satu callsign. Bayangkan kalau jadi SWL, kita harus mencatat dua callsign yang berbeda, exchange yang berbeda, belum kalau kondisi band-nya QRM/QSB mau minta diulang ke siapa? Ha ha…….

So, bener-bener appreciate sekali terhadap ‘kaum’ SWL-er ini. Keep up the good work.